This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Belajar Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Fotografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

Teknik memperkuat emosi foto

Ada banyak kategori yang terdapat pada fotografi, secara umum yang kita ketahui seperti portrait, landscape, black and white, human interest, dll. Sebelumnya apakah anda pernah mendengar mood photography ?
Mood Photography memiliki ciri khas tertentu daripada kategori foto yang lainnya. Menurut saya sendiri, mood photography merupakan penggabungan dari semuanya (portrait, landscape, bw, hi, dll). Serupa namun tak sama, ada beberapa teknik yang digunakan untuk menambah mood pada foto. Mood photography pastinya mengandung makna yang dalam, hanya man behind the gun lah yang mengetahui dengan jelas apa maksud dari fotonya. Orang lain yang melihat, bisa saja menafsirkan makna yang berbeda terhadap foto mood, karena setiap orang memiliki situasi dan pandangan masing-masing.
Pada dasarnya mood photography merupakan dari kehidupan sehari-hari. Fotografer menangkap momen dengan penuh emosi tentunya saat dia memotret sesuatu, karena berhubungan dengan apa yang mereka rasakan.
Sekilas mudah namun sangat susah sebenarnya untuk menangkap suatu gambar yang bisa menafsirkan makna yang kuat dan orang lain ikut dapat merasakannya. Editing foto juga berpengaruh terhadap mood yang terkandung dalam foto. Maka saya akan memberikan sedikit teknik fotografi untuk kategori mood.

Beberapa teknik yang dapat diterapkan agar mendapat mood yang kuat pada foto:

1. Menggunakan F/Diafragma besar
Objek yang difoto akan sangat tajam dan tentunya background menjadi out of focus. Nah dari background tersebutlah bisa dibentuk sebuah mood, karena kita tidak mengerti apa latar dari foto tersebut dan imajinasi lah yang bermain disini. Momen terbaik adalah saat backround lebih gelap daripada objek, shadow lebih menonjol daripada available light




Love Unite
copyright Rezky Febrinando


2. Low light
Siapa bilang foto low light adalah foto yang gagal ? Low light adalah salah satu teknik pada mood photography. Untuk menangkap objek yang diam, anda dapat menggunakan tripod untuk menghindari shake pada kamera. Sedangkan objek yang bergerak, maka gunakanlah iso yang tinggi. Anda pasti berfikir iso yang tinggi pasti menghasilkan noise. Noise inilah yang menjadi salah satu penguat mood pada foto, seperti grainy di kamera film tua.




Ainu
copyright Rezky Febrinando

3. Color Temperature
White balance sangat mempengaruhi mood seseorang saat menafsirkan suatu foto.





Contoh foto diatas adalah format RAW, dengan mengubah temperature warna. Cool dan Warm, objek sama-sama membentuk sebuah mood, namun mood yang berbeda karena temperature warna yang digunakan.
Saat memotret saya lebih memilih menggunakan format RAW daripada JPEG. Karena RAW memiliki banyak kelebihan tertentu, kita dapat mengubah salah satunya white balance pada foto dari perangkat editor vendor bawaan. Ibaratnya RAW adalah bahan mentah, JPEG bahan yang sudah jadi. Contohnya Canon Eos, apabila sudah terlanjur memotret dan ternyata kita salah mengatur white balance, contrast, brightnest, dll itu semua dapat diatasi dengan software editor untuk RAW dari Canon.

4. Backlight
Teknik backlight sangat disarankan pada pagi hari jam 6-8 dan sore hari 4-6. Karena available light pada jam tersebut sangat lembut dan mudah untuk mengatur angle motret. Foto backlight pastinya sudah tidak asing lagi bagi anda, contohny identik dengan objek manusia di padang ilalang dll.




Promise me
copyright Rezky Febrinando

5. Black and White
Inilah teknik paling umum dan dapat membuat foto menjadi extra moody. Teknik merubah warna menjadi hitam putih pun sangat banyak, sesuai selera anda. Saya sendiri menyukai foto bw dengan soft contrast dan low light. Contoh lainnya warna creamy, sepia, vintage, cross process, dll.




Lacuna Emptiness
copyright Rezky Febrinando


Foto mood photography saya yang lainnya



Random memories
copyright Photos Rezky Febrinando

Untuk melihat karya mood photography saya yang lain sebagai referensi atau memberi kritik dan saran bisa kunjungi blog saya. Teknik editing foto cold tone juga ada disini http://flava-production.blogspot.com/

"Simple thing can be the wonderful things"

Tips Membuat Foto Levitasi

Apa itu foto levitasi? foto levitasi adalah teknik fotografi yang membuat seseorang/sesuatu memiliki kesan seolah-olah bisa melayang terbang tanpa menggunakan alat bantu
Nah bagaimana caranya agar seseorang atau sesuatu tersebut terlihat terbang? Secara umum levitasi dilakukan dengan cara melompat, tapi bukan melompat biasa. Berikut adalah 6 tips dasar teknik foto levitasi:
1. Foto Levitasi Berbeda Dengan Foto Jump Shot (Foto Lompat)
Meskipun hampir mirip dan menggunakan teknik yang hampir sama, foto levitasi jika dilakukan dengan benar akan sangat terasa berbeda dengan foto jump shot. Inti dari teknik foto levitasi adalah membuat seseorang terlihat senatural mungkin di udara, jadi seolah-olah orang tersebut melakukan kegiatan di udara yang biasanya dilakukan di darat.
Levitasi merupakan gabungan teknik foto dan konsep foto sehingga semakin kuat Konsep dari sebuah foto dan semakin kuat teknik foto maka semakin kuat juga efek Levitasinya. Konsep foto di sini merupakan perpaduan dari pose tubuh, ekspresi wajah, pakaian atau aksesoris yang dipakai dan Lingkungan Sekitar.
  • Pose Tubuh yang sedang jump shot biasanya bahu terangkat, dada membusung, kaki terlipat sempurna, tangan dan kaki bergerak bebas atau terlihat tidak natural, rambut yang berantakan.
  • Ekspresi wajah yang sedang jumps shot biasanya terlalu ceria, mulut terbuka lebar tanpa makna, terlihat ekspresi sedang usaha melompat (muka tertekuk misalnya).
  • Pakaian/aksesoris yang sedang jump shot biasanya berantakan, aksesorisnya juga seperti tas dan Kalung terlihat tidak natural.
  • Lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi apakah foto ini terlihat lompat atau terlihat terbang? Misalnya di dalam foto ada penampakan kursi atau apapun yg membuat logika kita berpikir orang ini sedang loncat dari atas kursi, maka efek levitasinya akan berkurang.
Untuk teknik foto sendiri sebenarnya sangat sederhana, secara umum hanya mengandalkan speed tinggi (minimal 1/250) dan pengambilan sudut secara low angle (memotret dari bawah) selain itu diperlukan juga cahaya yang cukup terang agar obyek foto tidak nge-blur. Karena sederhana teknik foto levitasi ini hampir dapat diterapkan pada semua jenis kamera termasuk kamera seluler dan kamera saku.


Filosofi foto levitasi adalah anti gravitasi, jadi seolah-olah orang tersebut bisa melayang tanpa usaha seperti Superman. Sehingga jika adegan di foto adalah orang terpental hal itu bukan merupakan levitasi karena dia terbang akibat di dorong (terpental) bukan karena memang bisa terbang karena bisa anti gravitasi.

2. Foto Levitasi Tidak Asal Lompat
Pada contoh foto di tips 1 terlihat pose badan sangat mempengaruhi apakah ini termasuk Levitasi atau termasuk Jump Shot, agar tidak terlihat Jump Shot pose lompatnya pun harus ditentukan dahulu sebelum lompat agar pas di udara tidak terlalu banyak bergerak sehingga membuat anggota tubuh jadi nge-blur. Jadi sebelum lompat kita membayangkan dahulu di foto levitasi tesebut mau ada adegan apa? nanti pose tubuhnya yang akan menyesuaikan.
Secara logika kaki yang terlihat terlalu menekuk atau terlihat pose kurang natural mengesankan orang itu sedang melompat sehingga diperlukan panduan bagaimana menekuk kaki yang benar agar terlihat levitasi.
3. Motretlah Dari Bawah (Low Angle)
Karena teknik foto levitasi umumnya dilakukan dengan cara melompat dan tidak semua orang bisa melompat tinggi, sebaiknya si fotografer memotret dari bawah (low angle) hal ini akan membuat si model tampak terbang tinggi dan juga membuat terlihat pisah dengan permukaan tanah sehingga efek levitasinya akan semakin terasa.
Berikut adalah perbedaan foto levitasi yang dipotret dari atas (high angle) dan dari bawah (low angle), terlihat kalau motretnya dari bawah model tampak terbang tinggi dan pisah dengan permukaan tanah sehingga efek levitasinya semakin terasa.



4. Motretlah Ketika Model Naik Ke Atas
Ada beberapa tahap ketika seseorang melompat, 1) Naik ke atas, 2) Berhenti sejenak di udara ketika titik puncak (hovering) dan 3) Turun ke bawah.
  • Tahap yang paling ideal untuk foto levitasi adalah ketika model naik ke atas, karena pada tahap ini rambut model cenderung rapi, baju pun juga masih terlihat rapi.
  • Ketika model di tahap hovering, rambut dan pakaian akan cenderung menggelembung akibat efek aksi reaksi gravitasi sehingga akan terlihat kurang natural.
  • Ketika model di tahap jatuh ke bawah maka rambut dan pakaian akan berantakan naik ke atas karena ketiup angin sehingga efek levitasinya kurang terasa.
Sebagai pelengkap, agar rambut dan pakaian tidak mudah berantakan, bisa dipakai penjepit kertas untuk menjepit rok atau baju dan menggunakan gel atau hairspray atau pakai topi agar rambut tidak mudah berantakan. 5. Foto Levitasi dengan Rekayasa Digital
Di komunitas Levitasi Hore, diperbolehkan menghasilkan foto levitasi dengan kamera apapun dan dengan cara apapun, salah satunya dengan cara rekayasa digital (Photoshop Trick). Di teknik ini, model berlevitasi tidak dengan melompat, tapi dengan menggunakan alat bantu seperti kursi, meja atau alas lain untuk menopang tubuh sambil berpose seolah-olah sedang levitasi kemudian di komputer alat bantu tersebut di hilangkan dengan software pengolah gambar seperti Photoshop. Karena itulah disebut Photoshoptrick.
Teknik ini sangat berguna untuk beberapa kondisi:
  • Model punya keterbatasan untuk melompat (berat badan berlebih atau sedang cidera kaki)
  • Konsep foto yang terlalu ekstrem sehingga sangat sulit dilakukan jika dengan melompat
  • Faktor keamanan kalau melompat (lantai licin, memakai gaun panjang atau memakai sepatu hak tinggi)
6. Berceritalah!Buatlah foto levitasi yang mempunyai cerita, jadi tidak hanya pose terbang biasa. Semakin bercerita fotonya maka akan semakin menarik fotonya. Pakai juga aksesori yang mendukung cerita tersebut. Contoh foto levitasi yang bercerita misalnya sedang merayu pasangan, sedang kejar-kejaran, sedang membuang sampah dan lain-lain.

Macam-Macam teknik photografi

1. Depth of field (ruang tajam)
Hal-hal yang mempengaruhi ruang tajam:
-Jarak pemotretan (jauh=luas, dekat=sempit)
-Bukaan diafragma (kecil=luas, besar=sempit)
-Jarak fokus lensa /focal length (tele=sempit, wide=luas, normal=bisa diatur)
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik depth of field

2. Panning
-Panning adalah salah satu cara untuk memberikan kesan gerak pada foto.
-Ketika melakukan panning, anda harus mengikuti objek selama membidik.
-Hasil foto menjadikan objek menjadi relatif tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur.
-Untuk mendapatkan foto panning secara maksimal; dengan speed rendah (8-60), dan pakailah tripod (kaki tiga).
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik panning

3. Slow & stop action
-Slow action : salah satu teknik fotografi yang bertujuan memperlihatkan/menangkap gerakan objek. Biasanya digunakan kecepatan rendah, antara 1/30 sampai 1 detik
-Stop action : kebalikan dari slow, yaitu teknik fotografi untuk bertujuan membekukan gerak objek. Biasanya digunakan kecepatan tinggi, antara 1/125 sampai 1/4000 atau lebih.
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik slow action

Data teknis:
-Kamera : Nikon FM10
-Lensa : 35 – 70 mm
-Speed : 8
-Diafragma : 3,5
-ASA : 200
-Lokasi : TBS
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik slow action

Kamera : Canon 30D, speed : 10, diapragma : 5,6 ASA: 1600
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik stop action

Data teknis:
-Kamera : Nikon D100 Digital
-Lensa : 28 – 105 mm Nikkor D
-Speed : 125 (with soft box)
-Diafragma : 16
-ASA : 200

4. Zooming
-Zooming adalah teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa.
-Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
-Untuk mendapatkan kesan gerak, anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik.
-Untuk mendapatkan foto zooming secara maksimal, pakailah tripod (kaki tiga)

Data teknis:
-Kamera : Nikon D100 Digital
-Lensa : 28 – 80 Nikkor D
-Speed : 5 (with flash)
-Diafragma : 3.5
-ASA : 400
-White balance : flash
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik zooming

5. Bulb
-Kecepatan rana dapat diatur sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
-Teknik ini dilakukan dengan menahan tombol pelepas rana dengan lebih lama.
-Untuk mendapatkan hasil foto bulb secara maksimal, dapat digunakan kabel release dan tripod.
-Misal, kita mempergunakan kecepatan 30 detik sampai habis waktu perekaman cahaya.
http://hermawayne.blogspot.com

Teknik fotografi memotret sunrise, sunset dan twilight + setting kamera

Memotret sunrise dan sunset (sebenarnya gak ada bedanya dari sisi fotografi, yang beda cuma sunrise lebih dingin dan sepi daripada sunset, dan yang satu terbit dan yang lainnya tenggelam he he he). Persiapan yang dibutuhkan tentunya adalah memeriksa lokasi di hari sebelumnya, arah matahari dan sebagainya. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah kamera, tripod, dan senter.
Setelah tiba dilokasi, hal yang pertama dilakukan tentunya mencari lokasi yang bagus dan aman untuk memotret. Setelah ketemu, baru pasang kamera di tripod. Kalau bisa jangan kebalikannya, kalau keburu pasang tripod dulu biasanya kita sudah malas bergerak mencari posisi yang lebih bagus.
Mode dan setting exposure kamera
Mode kamera yang saya gunakan adalah mode manual (M). Pastikan AUTO ISO dalam kondisi OFF. Rugi dong, kalau ternyata AUTO ISO kamera memilih ISO yang terlampau tinggi karena mendeteksi pencahayaan yang gak begitu terang. Setelah itu saya akan set ISO rendah, sekitar 100/200 (tergantung kamera masing-masing). Dengan ISO rendah, kualitas fotonya paling bagus :)
Bukaan favorit saya adalah sekitar f/8 sampai f/16.  Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua. Setelah itu, saya tinggal atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat saya menekan setengah tombol shutter/jepret. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit.
(Sumber bacaan: Untuk mengenal istilah fotografi seperti mode kamera, ISO, bukaan dll silahkan mampir ke halaman top post kategori dasar fotografi)
Untuk fokusnya, saya mencoba autofokus, tapi kalau langit masih gelap dan kamera gagal mengunci fokus, saya akan set lensa/kamera ke manual fokus, dan mengunakan live view (komposisi dengan layar LCD) dan kemudian mencari fokus dengan memutar barrel fokus di lensa.
Lalu saya akan mengambil test shot, kalau terlalu terang atau gelap, saya akan ganti nilai shutter speednya supaya hasilnya sesuai keinginan saya. Asyiknya kamera digital jaman sekarang memberikan hasil foto langsung di layar LCD jadi tidak ada salahnya mencoba-coba setting yang berbeda-beda.
Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Remote dan cable release, dua aksesoris pembantu dapat membantu.
Kalau pemandangannya mencakupi sesuatu yang bergerak, contohnya ada orang seperti nelayan, fotografer, satwa, dll, maka shutter speednya gak boleh terlalu lambat (lebih dari satu detik) karena subjek yang bergerak itu akan tidak tajam. Kalau bisa, kita gunakan shutter speed cukup cepat, contohnya 1/15 detik atau kalau bisa 1/100 detik lebih ideal lagi. Untuk mendapatkan shutter speed cepat tanpa membuat hasil foto gelap, naikkan nilai ISOnya.
Filter atau tidak?
Filter seperti GND (graduated neutral density) biasanya digunakan untuk menyeimbangkan pencahayaan langit dan bumi saat sunset dan sunrise. Saya sendiri sukanya tidak mengunakan filter GND dan membiarkan bagian foreground gelap/siluet. Supaya kesannya lebih alami dan bentuk-bentuknya lebih menonjol. Alasan lain adalah tanah di tepi danau itu kotor, banyak sampah plastik bekas turis :( Dan alasan lainnya, filter GND repot dipasang dan yang berkualitas tinggi cukup mahal dan mudah rusak.
Alternatif lain jika ingin langit dan buminya seimbang yaitu mengaktifkan fitur yang dinamakan Active D Lighting (Nikon), Auto lighting optimizer (Canon). Ada juga kamera yang kini memiliki fitur Built-in HDR. Saat fitur ini aktif, kamera akan otomatis membuat dua gambar dan menggabungkannya langsung menjadi satu.
Cara lainnya yaitu membuat dua atau lebih dari dua foto yang terang gelapnya berbeda-beda lalu menggabungkannya dengan software pengolah HDR seperti Photomatix atau Photoshop CS. Saat mengunakan teknik HDR, kita wajib mengunakan tripod supaya foto akhir tidak berbayang dua.
Keterangan foto di atas
Foto diatas saya buat saat tur fotografi di daerah Pangalengan, Jawa Barat. Pagi-pagi sekitar jam 5.30 WIB. Saat ini biasanya disebut twilight hour / blue hour, menjelang matahari terbit. Secara komposisi saya mencoba membuat komposisi yang seimbang dengan adanya dua pohon disebelah kiri dan kanan. Siluet fotografer dan perahu diseimbangkan dengan dua perahu di sebelah kanan. Lensa lebar digunakan untuk membuat kesan luas berdimensi.
ISO 200, f/8, 1/2 detik, 16mm, kamera full frame (10mm untuk kamera bersensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9
Saya mengunakan ISO 200 supaya saya bisa mendapatkan shutter speed 1/2 detik, cukup supaya orang-orang ditepi danau tidak blur, dan kualitas foto masih terjaga.
Keterangan foto dibawah
Foto dibawah kondisi sudah sangat gelap karena matahari sudah tenggelam sekitar jam 18.15. Untuk membekukan gerakan nelayan yang sedang menjala ikan, saya mau gak mau harus pakai shutter speed tinggi. Caranya saya naikkan ISO ke 6400 kemudian gunakan bukaan terbesar, yaitu f/1.4. dan dari dua setting tersebut, saya mendapatkan shutter speed 1/125 detik. Lumayan untuk membekukan subjek foto.
Selain nelayan, saya memasukkan elemen foreground yaitu pohon di tepi waduk Jatiluhur. Lampu-lampu kuning dan refleksinya dari seberang waduk yang memberikan efek visual tambahan yang menurut saya cukup menarik.
ISO 6400, f/1.4, 1/125 detik, 85mm (di full frame, kira-kira 60mm di sensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9
Infofotografi secara rutin menyelenggarakan pelatihan dasar fotografi, pengenalan kamera, dan tur fotografi untuk mengasah ilmu dan praktis. Tempat terbatas dan sering terisi penuh dari jauh hari. Jangan lewatkan kesempatan belajar bersama-sama.

5 Teknik Fotografi Unik

5 Teknik Fotografi Unik, Hasilkan Gambar Menakjubkan
Menjadi seorang fotografer bukan berarti kerjamu hanya tekan tombol shutter saja. Diperlukan skill dan penguasaan teknik-teknik khusus fotografi untuk menunjang karirmu dalam bidang ini, sehingga kamu bisa bersaing dengan fotografer yang jumlahnya tak terhingga di dunia ini. Selain itu, dengan memahami teknik-teknik fotografi, kamu dapat membuat hasil fotomu lebih variatif.
Foto pemandangan? Foto manusia? Itu biasa. 5 teknik fotografi dibawah ini sanggup menghasilkan foto-foto berkelas yang menakjubkan, bahkan dengan objek paling biasa sekalipun.
    1. High-Speed Photography
      Pernah melihat foto balon meledak, percikan air atau kaca pecah? Nah, foto-foto ini dihasilkan dengan teknik high-speed photography. Objek yang bergerak akan menimbulkan efek blur ketika dipotret, dan beberapa fotografer menginginkan mereka “beku” sejenak untuk mendapatkan gambar yang fantastis. Teknik ini membuat hal-hal yang terjadi dengan cepat dan secara normal tidak akan tertangkap mata menjadi mungkin untuk diabadikan.  Amazing, right?

    1. Tilt-Shift Photography
      Tilt-shift photography adalah teknik fotografi unik dan kreatif yang mampu memanipulasi objek atau lokasi dengan ukuran sebenarnya menjadi terlihat seperti model miniatur. Untuk membuat efek ini, potret gambar dari sudut yang tinggi, sehingga akan tercipta ilusi seperti sedang melihat sebuah model miniatur. Kamera yang dilengkapi dengan lensa tilt-shift adalah yang kamu butuhkan untuk memulai teknik ini agar menghasilkan depth of field yang sempit.

    1. High Dynamic Range Photography (HDR)
      Teknik fotografi menakjubkan ini akan mampu mengaburkan pengertian kita akan perbedaan antara ilusi dan kenyataan. Foto HDR adalah teknik yang mampu membuat rentang dinamis dari eksposur yang jauh lebih besar dibandingkan dengan teknik digital imaging biasa, sehingga dapat memunculkan tingkat intensitas level yang jauh berbeda antara cahaya dengan bayangan. Biasanya teknik ini dilakukan dengan memodifikasi foto dengan software pengolahan gambar. Hasilnya? Luar biasa, tentu saja.

    1. Smoke Art Photography
      Asap merupakan hal biasa dalam kehidupan kita. Tapi tahukah kalian kalau asap bisa dijadikan objek untuk mengasilkan karya seni? Smoke art photography membuat hal yang biasa-saja ini menjadi luar biasa. Asap ini bisa digunakan sebagai objek atau sebagai media untuk membuat sesuatu yang lain. Beberapa fotografer menggunakan teknik fotografi ini untuk mengabadikan kecantikan dan kealamian dari asap ini, sementara fotografer lainnya menggunakannya untuk “melukis”, menghasilkan suatu karya seni yang amat menakjubkan.

    1. Motion Blur Photography
      Berbeda dengan high-speed fotografi yang sengaja “membekukan” objek foto, teknik fotografi motion blur menangkap keindahan dari sesuatu yang bergerak justru dari efek blurnya. Motion blur biasanya digunakan untuk memunculkan kesan gerakan yang cepat. Kamu bisa mendapatkan efek ini dengan menggunakan kecepatan shutter yang lambat (slow shutter speeds).

Jadi, fotografi tidak terbatas pada gambar seperti apa yang terlihat oleh mata telanjang. Justru dengan fotografi dan teknik-teknik ajaibnya, kamu bisa membuat sesuatu yang menakjubkan, dengan efek-efek tertentu yang tidak akan kamu lihat sehari-hari.
Masih banyak teknik-teknik luar biasa lain yang bisa kamu pelajari. IDS | International Design School memiliki program (course fotografi)  yang mampu membuatmu menjadi fotografer profesional, dengan para fotografer profesional berpengalaman sebagai pengajarnya.
Abadikan suatu momen biasa secara luar biasa, dan buat dirimu menjadi luar biasa pula diantara fotografer-fotografer lainnya. So, let’s try them now, photographer!

Tips Cara mengatur Cahaya Dslr pada malam Hari

BERIKUT ADALAH TIPS CARA MENGAMBIL GAMBAR PADA MALAM HARI AGAR TERLIHAT JELAS :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8-ZLxfG-sKtDQlQs0NJzT6xiDcJSK0UB2PuRrNZVUxjNFOv32HnwBli5TDACVkrfPH3LcRqSlMer34esyjjykJglsM6JlW80XREysxuG20OQG_B2E4bPy_Wq4LYRx_u1OGVbAOUoLonlg/s1600/settingan+kamera+slr+malam+hari.jpg
 
 
1. Nilai ISO
Jika mengambil gambar pada malam hari tanpa tripod, aturlah nilai ISO kamera untuk menjadi lebih sensitif terhadap cahaya yang ada. Misalnya, anda dapat menyetting nilai iso ke 1600 untuk mendapatkan hasil gambar yang lebih terang yang tentunya harus diimbangi dengan shutter spped yang lebih lambat. Namun perlu diingat juga bahwa semakin tinggi nilai iso akan menimbulkan 'noise' pada hasil jepretan. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, sobat bisa menggunakan bantuan tripod untuk menghindari goncangan ketika shutter speed lebih di lambatkan dan mengurangi nilai iso.
2. Lambatkan Shutter Speed
Sudah saya singgung di bagian sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan hasil jepretan yang lebih cerah, sobat harus melambatkan speed shutter. Hal ini dimaksudkan karena kaitannya dengan waktu sensor elektronik terkena cahaya selama proses pengambilan gambar. Semakin lambat shutter speed, maka akan semakin lambat sensor untuk mendapatkan cahaya. Untuk bagian ini silahkan sobat bereksperimen sendiri!
3. Gunakan Right Flash Light
Kamera DSLR dilengkapi dengan built-in flash, yang akan menjadi efisien saat digunakan untuk memotret di malam hari. Flash Built-in  menawarkan intensitas dan kecepatan yang berbeda, yang dapat diatur secara manual. Pertimbangkan selalu jumlah cahaya alami dan jarak dari subjek yang akan difoto. Untuk subyek yang bergerak, gunakan flash shutter speed 1/60 dari satu detik atau yang lebih cepat.
4. Lakukan Teknik ‘Bracketing’ 
Meskipun Anda telah memahami teknik fotografi, tetap sulit untuk mendapatkan hasil foto yang bagus hanya dengan sekali jepret. Intensitas cahaya yang berubah-ubah (mis: seiring tenggelamnya matahari) akan menjadi tantangan besar saat Anda hendak menentukan eksposur yang tepat. Kendala ini bisa dipecahkan antara lain dengan menerapkan teknik bracketing. Jepret obyek fotografi Anda sesuai dengan yang disarankan oleh lightmeter kamera. Setelah itu, ambil gambar lagi dengan lightmeter yang dinaikkan dan diturunkan satu atau dua tingkat. Kamera SLR tertentu telah ada yang memiki fitur bracketing otomatis sehingga Anda tidak perlu melakukannya secara manual.
 
SUMBER : http://ie-usa.blogspot.com/2013/09/cara-setting-kamera-dslr-untuk-malam.html

Tips mengambil foto untuk objek bergerak

jika anda ingin belajar fotografi anda bisa mecoba tips berikut cara mengambil gambar dengan kamera digital
Keseimbangan.
Pastikan posisi kamera digital anda tetap pada posisinya (tidak bergeser - geser). Anda dapat menggunakan tumpuan kamera atau yang biasa disebut tripod yang akan membuat posisi kamera anda stabil saat akan mengambil gambar. Anda dapat menanyakan tripod yang cocok untuk kamera anda di toko kamera digital.
Pencahayaan.
Mendapatkan cukup cahaya saat mengambil gambar merupakan aspek yang penting untuk menghasilkan gambar yang sempurna. Ini adalah suatu hal yang terkadang tidak dapat dihindari saat anda akan mengambil gambar pada objek yang sedang bergerak. Namun, anda dapat mengakalinya dengan mencari sudut gambar yang bagus dimana objek tersebut mendapat pencahayaan yang sempurna. Carilah tempat dimana anda dapat mengambil foto dengan kondisi tersebut. Tempat yang baik adalah dimana posisi matahari ada dibelakang anda, sehingga objek yang akan difoto mendapat pencahayaan sempurna. Cara lain adalah bergantung dari cahaya flash yang diberikan kamera digital anda. Gunakan lampu khusus pemotretan untuk mengambil gambar pada tempat yang kurang pencahayaan. Paling tidak ini dapat membantu mengurangi efek warna kuning ataupun kehijauan yang biasanya dihasilkan dari jepretan kamera digital karena kurangnya pencahayaan.
Tambahan memory.
Dapatkan hasil foto yang bagus dengan menambah kapasitas memory pada kamera digital anda. Menambahkan kapasitas memori ini akan membuat kamera anda bebas dalam mengambil foto dengan kapasitas yang besar dan dengan resolusi yang tinggi.
Foto dengan resolusi tinggi ini cenderung bersih dan jelas, sehingga jika anda memperkecil ukuran fotonya, anda tetap memperoleh gambar yang bagus. Kapasitas memory yang besar pada kamera anda membuat anda dapat mengambil gambar dalam jumlah yang banyak, sehingga nantinya anda dapat memilih dengan santai foto yang anda anggap paling bagus.
Selidiki lokasi.
Menyelidiki terlebih dahulu tempat yang nantinya merupakan tempat anda mengambil foto adalah cara yang dapat anda lakukan berikutnya dan ini sangat membantu. Melakukan survei lokasi ini paling tidak dapat membantu anda untuk menentukan sudut pemotretan dan membantu anda mengetahui sumber - sumber cahaya yang nantinya akan membantu anda dalam menghasilkan jepretan yang bagus dan sempurna.
Settingan kamera.
Anda juga dapat mengatur sendiri settingan pada kamera digital anda. Walaupun cara ini tidak terlalu membantu anda, Paling tidak anda dapat membuat pengaturan sendiri yang sesuai dengan selera anda untuk mengambil gambar.

Belajar auto fokus

Pernahkan Anda mengalami kesulitan mengontrol autofokus kamera DSLR? Kita ingin memfokuskan ke titik yang tertentu tetapi lensa kamera malah fokus ke titik lain secara otomatis. Kejadian ini sangat mengganggu terutama jika objek yang akan diambil gambarnya selalu bergerak atau momennya dapat hilang sewaktu-waktu. Sebenarnya hal tersebut bukan menjadi masalah serius jika Anda tahu teknik mengatasinya.

Ada beberapa cara untuk mengontrol autofocus. Pertama, mengubah posisi kamera setelah autofocus mengunci titik yang dituju dengan cara mempertahankan tombol shutter ditekan setengah jalan. Setelah posisi kamera sesuai dengan yang diinginkan, tombol shutter dapat ditekan penuh. Kedua, mengubah pengaturan lensa menjadi manual setelah titik yang dituju tampak jernih menggunakan autofocus. Ketiga menggunakan fasilitas back button autofocusing. Fasilitas back button autofocusing memiliki nama yang berbeda untuk kamera dengan produsen yang berbeda pula. Pada kamera D90 keluaran Nikon yang saya miliki tombol tersebut bernama AE-L/AF-L. Letaknya persis di sebelah kanan viewfinder tempat kita mengintip obyek yang akan diambil gambarnya. Dua cara pertama mendahulukan upaya memfokuskan obyek kemudian mengubah posisi kamera sedangkan teknik terakhir bisa menjernihkan gambar dahulu atau menentukan posisi kamera dahulu sesuai keinginan.
Dengan teknik back button autofocus, jika ingin memfokuskan obyek terlebih dahulu kita tinggal menekan tombol shutter setengah seperti biasa kemudian menguncinya dengan menekan tombol AE-L/AF-L. Setelah itu baru mengubah posisi kamera seperti yang diinginkan. Akan tetapi cara ini mengandung risiko yaitu perubahan posisi kamera sedikit atau banyak juga dapat mempengaruhi kejernihan objek yang dituju. Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara sebaliknya.  Ada beberapa perubahan setting kamera untuk melakukan teknik ini. Pertama, AF-area Mode perlu diubah menjadi single point tujuannya agar kita bisa menentukan titik mana yang akan digunakan sebagai panduan bagi kamera untuk memfokuskan obyek. Kedua, mengaktifkan tombol AF-ON. Dengan demikian setelah menentukan posisi kamera dengan titik fokus yang tepat, kita bisa menjernihkan gambar dengan menekan tombol AE-L/AF-L. Namun demikian cara ini juga tidak lepas dari kekurangan karena menentukan posisi kamera dengan titik fokus yang diinginkan juga cukup sulit dan kadang kurang memuaskan. 
 
 
SUMBER : http://learnbysurf.blogspot.com/2013/04/kendalikan-autofocus-kamera-dslr.html

Belajar Fotografi

Komponen Dasar Kamera DSLR (Bagian 1)

Komponen dasar yang terdapat pada kamera DSLR (sebagian terdapat juga pada kamera Rangefinder), yaitu:
- Lensa
- Diafragma (Aperture)
- Rana (Shutter)
- Sensor gambar digital (Digital Image Sensor)
- Memory Card
- Layar LCD
- Flash eksternal
- Jendela bidik (viewfinder)

Lensa
Sebuah lensa merupakan serangkaian elemen canggih yang biasanya terbuat dari kaca. Lensa dibentuk untuk membiaskan dan memfokuskan pantulan cahaya dari objek pada titik-titik tertentu. Sebelum membentuk gambar, interaksi pertama dengan pantulan cahaya yang datang dari objek adalah melalui sebuah lensa kamera.

Jenis-Jenis Lensa Secara Umum:
Meskipun ada banyak sub kategori jenis lensa, pada dasarnya jenis lensa yang umum dikenal adalah tele, wideangle, zoom, dan prima. Semua lensa ini melakukan fungsi dasar yang sama yaitu menangkap cahaya reflektif dari subjek dan memfokuskan pada sensor gambar namun cara mengirimkan cahaya yang dipantulkan objek berbeda.
  1. Lensa Tele; Karakteristik dari lensa ini adalah mendekatkan objek tetapi mempersempit sudut pandang. Lensa ini biasanya digunakan oleh fotografer olahraga dan fotografer binatang liar untuk mengambil objek foto yang jaraknya jauh.
Lensa Tele

  1. Lensa Sudut Lebar (Wide Angle); Lensa ini kebalikan dari lensa tele yaitu lensa yang mempunyai focal length pendek. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya dan dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit.
    Lensa Wide Angle
    
  2. Lensa Zoom; Lensa zoom memiliki kemampuan untuk mengubah focal length dari wide angle ke standar dan dari standar ke zoom sehingga sangat fleksibel untuk digunakan karena memiliki rentang focal length yang cukup lebar. Lensa jenis ini di kenal juga sebagai lensa sapu jagad, akan tetapi lensa ini rawan getar, maka dari itu lensa zoom yang memiliki Image Stabilization sangat dianjurkan. 
    Lensa Zoom
    
  3. Lensa Prime atau Fixed Lens; Lensa yang hanya memiliki satu rentang fokal sehingga tidak bisa menggunakan zoom. Untuk yang baru belajar fotografi, lensa prime lensa yan baik untuk belajar karena Anda dipaksa untuk bergerak dan mengambil sudut pandang yang lebih baik